Mbehal, di masa lalu, dikenal luas sebagai ‘pusat kedaluan Boleng’. Kampung ini, meski dari sisi letak, relatif kurang strategis, tetapi justru dijadikan lokus aktivitas para dalu kala ini. Sebagian besar dalu yang berkuasa di Boleng, menetap di kampung ini.
Konon, kampung ini sangat ‘disegani’. Para pemuda yang hendak mempersunting ‘gadis-gadis’ keturunan Dalu, menjadi saksi ‘betapa tidak mudah’ untuk menerobos otoritas kraeng Dalu dalam memberi izin terhadap ‘niat para pemuda’ tersebut.
Cerita masa lampau itu, rasanya sudah tidak terjadi lagi saat ini. Afrianus Jehaut, seorang staf pengajar di SMK Stella Maris, tak mengalami kendala yang berarti dalam membangun ‘relasi spesial’ dengan Afeti, seorang ‘nona cantik’ asal Mbehal ini.
Hari ini, Jumat, (14/11/2025) dua sejoli ini, telah dipersatukan oleh Yang Ilahi sebagai pasangan suami-istri. Sakramen pernikahan yang mereka terima itu, dilihat sebagai ‘rahmat’ yang patut disyukuri. Karena itu, keluarga besar SMK Stella Maris coba berpartisipasi dalam merayakan hari bahagia mereka.
Puluhan guru, kolega dari pengantin laki-laki di SMK Stella Maris sangat antusias dalam mengikuti resepsi perkawinan ini. Setelah melewati sejumlah tantangan, (sepeda motor rusak dalam perjalanan, hujan lebat, dan jalanan yang rusak sebelum tiba di lokasi pesta), akhirnya, kami tiba di ‘eks istana kedaluan Boleng’ ini, sekitar pukul 20.00.
Beberapa menit setelah sesi ‘jabat tangan’ dengan dua mempelai, Master of Ceremony (MC) ‘menodong’ rombongan Stella Maris untuk ‘menggetarkan panggung cinta’, melalui satu nomor lagu. Tantangan itu, belum direspons sebab ‘perut masih kosong’.
Acara santap (malam) telah digelar. MC memberi tantangan yang kedua. Kali ini, tidak pakai lama, saya berlangkah ke panggung, bukan sebagai penyanyi, tetapi sebagai ‘pemberi kata pengantar’. Ada empat rekan guru yang saya promosikan sebagai ‘vokalis kenamaan’ di SMK Stella Maris.
Empat ‘artis’ yang dimaksud adalah Delci, Yogan, Oncik dan Rudy. Penampilan mereka begitu ‘memukau’ malam ini. Dua nomor lagu yang didendangkan, sukses’ menggetarkan tenda cinta. Suasana tampak lebih semarak sebab kedua mempelai ‘diajak’ untuk bergabung dalam ‘grup vokal’ itu.
Penampilan yang luar biasa dari empat ‘makhluk seni’ itu, ditutup dengan sesi ‘wawancara singkat’. Saya coba ‘mengorek’ rasa dan kematangan kedua mempelai dalam mengambil keputusan ‘membangun bahtera rumah tangga’. Pertanyaan diarahkan kepada mempelai wanita. “Ada sekian banyak pemuda yang mungkin lebih ganteng dan menarik dari Afri, mengapa Afeti lebih memilih Afri? Ada pesona apa yang terpancar dalam diri Afri sehingga Afeti sangat yakin bahwa inilah ‘sosok pangeran’ yang diidamkannya selama ini?
Pertanyaan pamungkas saya kepada kedua mempelai adalah ‘berapa banyak buah yang dihasilkan dari perkawinan’ ini? Dalam nada bercanda dan sedikit diplomatis Afri menjawab: “Kami menginginkan sebanyak-banyaknya. Tetapi, tergantung dari Yang Di Atas. Berapa saja yang dikasih, kami siap untuk mengasuh dan mendidiknya”.
Dialog persaudaraan ini, menjadi ‘epilog’ untuk acara yang bersifat formal malam ini. Selanjutnya, MC membuka ruang dan kesempatan kepada semua undangan untuk ‘mengekspresikan rasa bahagia’ melalui seni gerak (tari). Rombongan Stella Maris coba mengisi momen ini secara optimal.
Beragam ekspresi dan gaya ditampilkan secara kreatif. Tubuh menjadi ‘materi seni’ yang ditata seturut alunan musik. Kami semua larut dalam suasana riang gembira. Musik yang menggema di tenda pesta seolah ‘menghipnotis’ kami untuk tidak betah duduk di kursi. Saking bahagianya, ada beberapa teman yang ‘tidak pernah duduk’ sepanjang acara goyang ria itu.
Tak terasa jarum jam menunjukkan angka 1. Hari sudah berganti. Raga kami sudah mulai lelah. Kami pun pamit dengan kedua mempelai dan semua keluarga besar di Mbehal. Besok tetap masuk sekolah seperti biasa. Tiba di Labuan Bajo sekitar pukul, 02,00. Masih ada 3 jam untuk istirahat.
Selamat dan profisiat kepada Afri dan Afeti. Semoga perkawinan ini menghasilkan ‘buah yang berlimpah’. Yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Terima kasih Mbehal. Jika bukan karena Mbehal, saya dan kolega mungkin ‘tidak merasakan’ sensasi kebahagiaan yang tiada duanya.












