Dalam rangka memaknai dan memeriahkan Hari Guru Nasional (HGN), 25 November 2025, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) cabang Manggarai Barat (Mabar), menyelenggarakan dua jenis perlombaan, yaitu lomba Mars PGRI dan pertandingan bola volley (putra dan putri). Seingat saya, pertandingan volley menjadi kompetisi yang rutin dibuat menjelang Hari Guru itu.
Perlombaan bidang yang lain bersifat opsional. Tidak heran jika setiap tahun, selalu ada pergantian. Tahun lalu misalnya, panitia membuka ruang bagi para guru untuk ‘terlibat’ dalam lomba Menulis Berita Kisah (feature). Tahun ini, pihak panitia memilih lomba ‘Menyanyikan Mars PGRI’.
Kita tidak tahu perihal alasan di balik keputusan ini. Apakah ‘lomba menulis’ dinilai ‘kurang prestisius’? Apakah biaya untuk lomba menulis ini, terlalu besar? Mungkin karena ‘sepi peminat’ dan terlalu mengandalkan ‘kemampuan personal’, sehingga lomba menulis tidak dibuat lagi.
Pada sisi yang lain, panitia tetap menjadikan turnamen volley sebagai ‘kegiatan utama’. Biaya, energi, dan waktu, banyak tersedot untuk ‘unjuk kebolehan’ di arena volley itu. Barangkali, pilihan itu, dilatari oleh misi ‘guru harus berbau bola’. Untuk menjaga kebugaran fisiknya, guru mesti akrab dengan bola (volley) itu.
Padahal, jika kita mengamini bahwa guru merupakan bagian dari ‘komunitas intelegensia’, maka semestinya tubuh guru ‘berbau buku’. Sahabat karib seorang guru adalah buku. Boleh dibilang buku menjadi semacam ‘penanda’ pentahbisannya sebagai seorang ‘intelektual’.
Ada secercah harapan perihal tampilnya ‘guru yang berbau buku’ ketika tahun 2024, Menulis juga menjadi salah satu mata lomba. Pasalnya, dari laporan yang disampaikan koordinator seksi ‘lomba menulis Feature’, naskah yang masuk ke panitia kala itu berjumlah 21. Jika satu orang menulis satu artikel, maka ada 21 orang (guru) di Mabar yang terlibat dalam ajang ini. Sebuah angka yang tidak terlalu ‘memprihatinkan’.
Sayang, tahun ini, gairah semacam itu, tidak terlihat lagi. Hari PGRI yang semestinya menjadi ‘momentum bagi guru’ untuk menggauli aktivitas literasi secara intensif, relatif terpinggirkan. Kita lebih memilih kegiatan yang bersifat kolektif dan euforia.
Saya tidak sedang menjustifikasi bahwa ‘kompetisi volley’ itu tidak penting. Yang menjadi sorotan di sini adalah ‘mengapa kita hanya memfokuskan perhatian’ pada aspek ragawi jelang Hari Guru itu? Mengapa aktivitas menulis, bedah buku, seminar dan akademik lain yang sesuai dengan ‘predikat guru’ itu sendiri, diabaikan begitu saja?
Tulisan yang diproduksi oleh seorang guru, entah untuk tujuan ikut serta dalam perlombaan, maupun untuk sekadar menyalurkan hobi, bisa dinilai sebagai ‘buah dari keuletannya’ dalam mengunyah isi buku. Otaknya sudah ‘terisi’ dengan nutrisi gagasan yang digali dari buku yang disantapnya.
Sangat jarang, seseorang bisa menulis dengan baik, tanpa memiliki ‘habitus membaca’. Seorang penulis pastilah seorang ‘pembaca’ yang tekun. Para guru yang sudah mengirim ‘buah karyanya’ dalam kegiatan lomba menulis itu, hemat saya (meski tidak selalu), menghayati budaya baca secara teratur.
Tradisi literasi (baca-tulis) di kalangan guru, diharapkan ‘bersemi’ pasca peringatan HGN. Budaya itu, selain distimulasi lewat ‘event lomba’, juga ‘dipompa’ melalui program Guru Penggerak dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dua program itu, hemat saya, menjadi instrumen efektif dalam mendongkrak mutu guru baik dalam hal pengembangan profesinya sebagai guru, maupun dalam menumbuhkan kultur berbagi hal baik, melalui aktivitas literasi.
Saya mendengar ‘sharing’ dari teman-teman yang mengikuti dua program itu bahwa ternyata salah satu modal untuk ‘lulus’ baik sebagai Guru Penggerak maupun Guru Profesional adalah kemampuan literasi yang baik. Suka tidak suka, para peserta ‘ditodong’ untuk membaca dan menghasilkan karya berdasarkan refleksi mereka terhadap aneka materi yang diperoleh, baik melalui tutor, maupun aneka modul (buku teks).
Setiap tahun, puluhan bahkan ratusan guru di Mabar yang dinyatakan ‘lulus’ sebagai Guru Penggerak dan Guru bersertifikat profesional. Sesuai alur pikir di atas, maka setiap tahun kita mendapatkan ‘guru yang berbau buku’. Asumsinya jelas, mereka yang lulus itu, besar kemungkinan, selalu ‘akrab dengan buku’, minimal pada saat mengikuti program tersebut.
Karena itu, tidak salah jika kita ‘mendorong’ semua Guru Penggerak, Guru Profesional dan semua guru yang tergerak hatinya dalam menyusuri jalan literasi, untuk konsisten menghidupkan kultur akademik itu dan menularkannya secara kreatif kepada peserta dididik.
Saya cukup optimis bahwa manakala semua guru ‘sudah berbau buku’, maka cepat atau lambat, para siswa/i pun akan ‘berbau buku juga’. Jika lingkungan sekolah ‘dihuni oleh makhluk yang berbau buku’, generasi emas yang kita dambakan pada tahun 2045, bukan sebuah lamunan kosong di siang bolong.
Jadi, guru ‘berbau bola’ itu juga penting. Tetapi jangan sampai kita melupakan apa yang menjadi ‘kekhasan seorang guru. Jelang HGN ini, seharusnya menjadi kesempatan untuk mengaktifkan budaya literasi. Guru berbau buku, merupakan sebuah imperasi etis yang tak bisa ditawar lagi.*SJ












