Katanya cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya sendiri. Tetapi bagaimana jika ‘luka’ juga berasal dari ayah, cinta pertama itu? Apakah masih disebut demikian?
Inilah kisah Clara, anak sulung dari keluarga keluarga terpandang. Ia berasal dari Labuan Bajo. Dulu, sewaktu kecil, ia tumbuh dengan cinta dan kasih sayang yang begitu besar. Ekonomi yang cukup serta dikelilingi oleh teman-teman yang begitu baik kepadanya. Akan tetapi, semuanya itu berubah semenjak dia menginjak SMA.
Ibunya tidak lagi memedulikan dia. Sementara itu, ayahnya selingkuh dengan wanita lain. Semenjak dia tahu ayahnya selingkuh, dia memendam semuanya sendiri bahkan teman-temannya tidak tahu. Dia mengurung dirinya sendiri. Ia pusing. Sesekali rambutnya yang lurus mulai lepek dan rontok. Perkara rambutnya yang rontok juga ada kaitannya dengan pikirannya yang semakin kalang kabut memikirkan ayah dan wajah ibunya yang murung. Sungguh tidak dapat diterima.
Kalian tahu, adakah yang paling menyakitkan selain patah hati? Ya, melihat ‘rumah’, tempat untuk berpulang dimakan egoisme dan api cemburu. Clara pun alami hal semacam itu.
Dia pernah melantunkan doa “kenapa keluarga saya seperti ini”? Kenapa ayah tega melakukan itu?” Clara tidak pernah berhenti melantunkan keluhnya itu. Berharap agar masalah yang dialaminya cepat berlalu. Meski ayahnya menyadari bahwa selingkuh adalah perbuatan keji, dan ibunya berusaha agar terlihat baik-baik saja.
Setiap malam dia tekun berdoa walaupun dia tahu bahwa harapan untuk keluarganya kembali seperti dulu sangat mustahil. Akan tetapi, dengan berdoa, hatinya sedikit tenang walaupun dia masih dihantui dengan rasa takut. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Ia teringat akan perjalanan dan perjuangannya mengejar masa depan yang mungkin pupus. Takut akan ibunya yang patah semangat lalu mengambil jalan bodoh. Ketakutan yang dihadapi Clara berkecamuk seperti badai yang bergelora. Dia tidak dapat membantah yang dengan kenyataan yang sedang terjadi.
Hari-hari yang harus dia lewati, terasa sangat berat. Akan tetapi, dia percaya bahwa harapannya agar keluarganya Kembali seperti dulu, pasti terjadi, meski hanya secuil saja. Kini Clara merasa ‘kehilangan rumah’ tempat di mana dia berbagi cerita. Seolah ia tumbuh sebagai remaja ‘tanpa rumah’. Keluarganya mengalami perpecahan (broken home). Tidak salah jika Clara selalu bertanya ‘where is my home’? Di mana ‘rumahku’ sekarang? Oleh:*Avrizal Neratedeng X-01 Perhotelan SMK Stella Maris.











