Filsafat Bagi Siswa SMK (Sebuah Percobaan)

Oleh: Sil Joni*

Apa yang terjadi jika filsafat mulai diajarkan di tingkat SMP, SMA, SMK? Apakah fisafat itu terlalu rumit bagi para remaja? Seperti apa wajah pendidikan dan generasi kita, jika negara berani memasukkan filsafat sebagai salah satu mata pelajaran wajib di tingkat sekolah menenengah? Padahal, hampir pasti bahwa berpikir kritis-analitis menjadi salah satu tujuan proses pembelajaran di ruang kelas. Pertanyaannya adalah kemampuan berpikir kritis-analitis itu ‘jatuh begitu saja dari langit’? Apakah strategi, pendekatan dan metode yang diterapkan guru dalam kelas benar-benar membantu peserta didik untuk sampai pada level berpikir kritis-analitis itu? Seberapa besar porsi ‘pengembangan kemampuan berpikir kritis’ dalam ruangan kelas? Alat bantu apa yang dipakai oleh para guru dalam menstimulasi potensi kritisisme dalam diri siswa?

Isu penguatan kemampuan berpikir kritis ini kian urgen jika dikonfrontasikan dengan goal pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kita tahu bahwa pada tingkat SMK, keahlian dan keterampilan teknis menjadi fokus utama. Materi pendidikan diarahkan hanya pada upaya peningkatan keterampilan teknis-spesifik, sementara keahlian untuk berpikir kritis dan reflektif kerap terlupakan.

Hemat saya, keterampilan teknis yang tidak ditopang dengan kemampuan berpikir kritis, hanya melahirkan ‘pekerja’ yang mudah kehilangan orientasi. “Pekerja’ yang tidak dibekali dengan cahaya etis (filsafat moral), relatif kurang menangkap ‘makna’ dari pekerjaannya yang berujung pada rendahnya ethos dan budaya kerja.

Karena itu, tesis saya adalah filsafat bisa dijadikan ‘solusi’ untuk meningkatkan kapasitas berpikir kritis dan reflektif para siswa SMK. Pemikiran kritis dilihat sebagai fondasi keahlian yang bersifat teknis. Logika dan pemikiran kritis dalam filsafat dapat menjadi basis yang kokoh bagi pengembangan keahlian siswa.

Filsafat adalah ilmu yang membongkar dan mempertanyakan semua asumsi dan realitas yang kebenarannya masih samar. Melalui pelajaran filsafat, siswa/i SMK dibiasakan untuk menggugat, menganalisis, dan mengevaluasi kenyataan termasuk tindakannya sendiri. Dengan itu, siswa dapat mengasah kemampuan menganalisis situasi, mengevaluasi masalah, dan mencari solusi yang tepat. Kemampuan semacam ini tentu sangat membantu siswa menghadapi tantangan dunia kerja yang kompleks.

Aspek soft skill (karakter, attitude) sangat menentukan bagi output SMK untuk menuai sukses di dunia kerja. Filsafat membantu siswa dalam mengembangkan etika dan tanggung jawab profesional yang merupakan bagian yang inheren dari unsur karakter itu. Pengenalan filsafat mora, sangat relevan dalam dunia keahlian. Siswa SMK akan diajak untuk merenungkan tentang moralitas dalam berbagai situasi kerja. Membentuk karakter yang bertanggung jawab dan memiliki etika profesional yang baik akan membantu siswa dalam bekerja secara efisien dan menjalin hubungan kerja yang harmonis.

Sejalan dengan hal itu, melalui pembelajaran filsafat, peserta didik bisa memahami konsekuensi (dampak) dari tindakannya sendiri. Mengapa? Filsafat membahas tentang pertimbangan moral dan konsekuensi tindakan. Siswa SMK, terutama yang mengambil kejuruan tertentu, akan belajar tentang bagaimana tindakan mereka berdampak pada lingkungan kerja, masyarakat, dan lingkungan secara keseluruhan.

Dengan ini, mereka akan menjadi pribadi yang lebih bijaksana (arif) dalam membuat keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Kesalahan elementer dalam dunia kerja bisa diminimalisasi. Mereka memanfaatkan kemampuan bernalar dan kejernihan moral dalam ‘menilai’ sebuah tindakan.

Semua bidang spesialisasi kejuruan bisa diterangi oleh refleksi filosofis. Dengan kata lain, filsafat dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang kejuruan. Di SMK Stella Maris misalnya, filsafat bisa beroperasi secara kreatif dalam jurusan Pelayaran, Otomotif, Pariwisata, Perhotelan dan Kuliner.

Siswa program Otomotif akan merenungkan tentang implikasi etis dalam pengembangan dan penggunaan teknologi otomotif. Siswa kejuruan perhotelan akan mempertimbangkan nilai-nilai moral dalam memberikan pelayanan kepada tamu. Hal yang sama berlaku pada jurusan Pariwisata, Kuliner dan Pelayaran. Singkatnya, filsafat memberikan dasar yang kuat bagi siswa SMK untuk menghadapi tantangan profesionalisme dalam spesialisasi kejuruan mereka.

Pertanyaan lanjutannya adalah bagaiamana penerapan pembelajaran filsafat dalam kurikulum SMK? Apakah filsafat menjadi ‘subyek (mata pelajaran)’ independen atau terintegrasi dalam semua materi pelajaran yang lain? Sebagai sebuah percobaan, mungkin alternatif kedua bisa menjadi opsi.

Kurikulum SMK dapat diperkaya dengan materi filsafat yang relevan dengan program kejuruan masing-masing. Misalnya, dalam program Otomotif, siswa dapat belajar tentang moralitas terkait pengembangan teknologi otomotif yang bertanggung jawab dan aman bagi pengguna. Bagaimana membangun relasi dan komunikasi yang etis dengan para pelanggan.

Tidak mudah untuk ‘memasukkan’ roh filosofis dalam setiap mata pelajaran, baik yang produktif maupun yang normatif-adaptif di SMK. Karena itu, guru SMK perlu diberikan pelatihan dalam mengajar materi filsafat yang relevan dengan kebutuhan siswa dalam menghadapi dunia kerja. Guru yang terlatih akan dapat menghadirkan materi filsafat secara menarik dan aplikatif dalam kelas.

Jadi, tak diragukan lagi bahwa filsafat memiliki kontribusi dalam mengembangkan keahlian dan karakter siswa SMK. Materi filsafat, khususnya tentang pemikiran kritis dan etika, akan memberikan fondasi yang kuat bagi siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Implementasi filsafat dalam kurikulum SMK dapat memberikan manfaat positif bagi pengembangan profesionalisme dan moral siswa serta membuat mereka menjadi pribadi yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Apakah negara sudah ‘siap’ menawarkan pembelajaran filsafat pada jenjang SMK? Sampai detik ini, belum ada indikasi bahwa filsafat sangat urgen diberikan kepada para siswa SMP, SMA/SMK. Di negara lain, seperti Perancis, filsafat diajarkan juga kepada anak SMP dan SMA. Mengapa Indonesia tidak berani mencoba mengadopsi negara-negara yang tradisi filsafatnya sangat kuat dan berakar?

*Penulis adalah staf pengajar di SMK Stella Maris Labuan Bajo.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Info Terbaru

Karya Tulis

Opini

Statistik Kunjungan

Name
Age
Phone
🟢 Online Users
0
📊 Today's Visitors
3
📊 Today's Visits
3
📊 Yesterday's Visitors
26
📊 Yesterday's Visits
33
📊 Total Visitors
31560
📊 Total Visits
62292