“Pak guru, apa itu filsafat”, tanya seorang siswa kelas X di SMK Stella Maris. Pertanyaan itu muncul secara spontan ketika saya memperkenalkan ‘latar belakang akademik’ saya pada hari pertama proses pembelajaran.
Saya kira, apa yang diutarakan oleh siswa itu, mewakili suara dari seluruh warga kelas yang masing bingung dengan ‘bidang ilmu’ yang saya tekuni selama berada di Perguruan Tinggi (PT). Sebuah ‘kebingungan intelektual’ yang bersifat normal. Bagaimanapun, ilmu apa saja, termasuk filsafat, berawal dan berkembang dari ‘rasa heran’ semacam itu.
Tentu tidak mudah untuk ‘menjelasakan secara komprehensif’ soal esensi filsafat kepada peserta didik yang masih belia (usia remaja). Yang bisa saya sampaikan kala itu adalah ‘sadar atau tidak, anda sedang berfilsafat’. Filsafat sebagai ilmu, relatif kurang penting, tetapi filsafat sebagi ‘metode berpikir’, rasanya sangat mendesak untuk disuntikkan ke kepala mereka.
Ketika anda merasa heran, takjub, dan bingung berhadapan dengan ‘apa yang tampak’, maka itu sebuah ‘sinyal bahwa anda mau mendapatkan penjelasan yang lebih terang perihal ‘hakikat’ dari sesuatu. Keheranan atau kebingunan itu, tidak boleh dipendam, tetapi dinyatakan melalui pertanyaan.
Ketika anda ‘berani menggugat, menyoal, dan mempertanyakan obyek atau ide yang mungkin menurut kebanyakan orang sudah final (mengalami fiksasi), maka pada saat itu anda ‘sedang berfilsafat’. Secara sederhana, filsafat itu sejenis ‘metode’ mendapatkan tilikan baru melalui ‘pertanyaan’. Berfilsafat, dengan demikian identik dengan ‘bertanya’.
Dalam dan melalui ‘pertanyaan’, esensi dari sesuatu akan ‘tersingkap’. Kita tidak pernah puas dengan ‘apa yang ada di permukaan’. Filsafat membantu kita untuk ‘masuk ke kedalaman, mencari akar (radix) dari ‘sesuatu’. Jawaban yang ditemukan dalam pencarian itu, tidak pernah final. Setiap jawaban selalu punya potensi untuk ‘digugat’. Berarti filsafat sebenarnya ‘aktivitas bertanya’ yang tak berkesudahan.
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari realitas melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar. Bertanya dalam filsafat membantu memahami berbagai aspek kehidupan, membantu mengembangkan pemikiran kritis, membantu merenungkan hal-hal fundamental seperti eksistensi, nilai, etika, dan pengetahuan, membantu mengatasi prasangka dan gagasan yang menipu diri sendiri, dan membantu memecahkan masalah secara damai dan konstruktif.
Tetapi, tidak semua pertanyaan yang kita ajukan bercorak filosofis. Pertanyaan praktis tentang ‘bagaimana (how) membuat kue donat misalnya, tidak masuk dalam kategori pertanyaan filsafat. Demikian juga, kalau anda bertanya ‘berapa jumlah agama’ yang diakui di negara Indonesia, jelas bukan pertanyaan filosofis.
Beda ceritanya kalau anda bertanya ‘mengapa pemerintah Indonesia ‘hanya’ mengakui 6 agama di republik ini? Apa itu agama? Apakah agama yang tidak diakui itu, “bukan agama”? Mengapa manusia beragama? Seperti apa wajah peradaban ini jika agama lenyap?
Refleksi terhadap setiap pertanyaan filsafat, biasanya tidak pernah tuntas. Kapasitas rasionalitas manusia sangat terbatas untuk menyelami secara paripurna realitas yang menjadi obyek permenungan. Kita hanya memahami ‘sebagian’ dari totalitas keberadaan dari sesuatu.
Mungkin karena menderita ‘kekurangan metafisis’ semacam itu, manusia tidak pernah berhenti belajar. Dirinya selalu merasa ‘kurang’ sehingga ada hasrat untuk melampaui kekurangan itu. Jalan yang ditempuh tentu saja ‘dengan bertanya’. Sabda terkenal dari Sokrates, bapak filsafat itu, “saya tahu bahwa saya tidak tahu’, rasanya tidak berlebihan. Kesadaran akan ketidaktahuan itu menjadi ‘pemicu’ lahirnya aneka pemikiran yang lebih inovatif dan kualitatif yang mempengaruhi gerak peradaban dunia.
Poin saya adalah ‘jangan bunuh naluri bertanya’ atau berfilsafat dalam diri peserta didik kita. Dalam proses pembeljaran di kelas, sedapat mungkin guru mestimulasi sisi kuriositas dalam diri anak melalui pertanyaan-pertanyaan yang kritis.
Para siswa mesti dibiasakan untuk ‘menunda’ penerimaan terhadap kebenaran ilmu yang ditawarkan dalam aktivitas pembelajaran. Mereka coba ‘melihat’ dari pelbagai sisi, setiap topik yang diajarkan. Keraguan metodis ala ‘Descartes’, menjadi opsi yang brilian. Sikap kritis harus ditumbuhkan dan dimunculkan dalam setiap kegiatan pembelajaran. *SJ/Media Center.












