Menumbuhkan Budaya Literasi (Percikan Gagasan dalam “Dialog Intelektual” di SMK Stella Maris)

Dalam rangka memaknai momen peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa, SMK Stella Maris menyelenggarakan acara Festival Literasi dan Pentas Seni. Kegiatan itu dihelat pada Sabtu, 1/11/2025. Halaman tengah sekolah ‘disulap’ menjadi panggung spektakuler. Sebagian para siswa dengan sangat bergairah mengekspresikan potensi mereka, baik dalam bidang literasi (baca-tulis) maupun aspek seni.

Pihak penyelenggara memberi ruang dan kesempatan kepada saya untuk memandu acara ‘Dialog Intelektual’ bertajuk Literasi dalam Bingkai Spirit Sumpah Pemuda. Ada lima siswa yang tampil sebagai ‘pemantik diskusi’ yaitu, Maria, Avrisa, Airin, Bintang, dan Haina. Mereka coba mengupas penerapan budaya literasi berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi di lembaga ini.

Kelima peserta didik ini mengakui bahwa kegiatan literasi itu sangat penting bagi seorang siswa. Maria misalnya dengan tegas mengatakan “bagi saya membaca dan menulis itu sangat penting. Dengan literasi otak kita semakin terasah, wawasan semakin luas. Kita bisa mengungkapkan perasaan dan pikiran secara bebas”.

Pendapat Maria ini diamini oleh empat temannya yang lain. Mereka berharap agar ‘segenap civitas academica SMK Stella Maris, tidak pernah berhenti untuk bergaul dengan kultur literasi’. Kelima pembicara ini mengaku sangat ‘terpikat dengan dunia literasi’. Mereka memiliki minat yang besar dalam hal membaca dan juga menulis. Bahkan ada di antara mereka yang sudah membaca belasan buku, baik fiksi maupun non fiksi, dan berhasil menulis beberapa cerita pendek (Cerpen).

Di samping catatan positif itu, ada satu pembicara (Haina) yang memberi kritikan pedas pada guru. Bagi Haina, budaya literasi kurang bergairah di lingkungan Stella Maris, salah satunya karena guru ‘kurang memperhatikan bakat semua siswa’. Selain itu, “guru juga gagal memberikan teladan baik dalam hal membaca dan menulis’.

Kritikan ini direspons secara arif oleh pak Hans dan pak Lorens. Keduanya menerima dan mengakui bahwa ‘memang guru belum sepenuhnya mendorong siswa untuk menekuni budaya literasi melalui contoh yang nyata’.

Kendati demikian, baik pak Hans maupun pak Lorens tetap memotivasi semua peserta didik untuk lebih semangat lagi dalam urusan membaca dan menulis ini.

Literasi dalam Terang Sumpah Pemuda

Dua poin berikut, hemat saya bisa menjadi benang merah antara Spirit Sumpah Pemuda dan Budaya Literasi. Pertama, salah satu butir Sumpah yang diikrarkan oleh para pemuda bangsa pada 28 Oktober 1928 adalah: “Menjunjung tinggi Bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia”. Kita tahu bahwa literasi adalah aktivitas yang berkaitan erat dengan Bahasa. Medium utama dalam kegiatan literasi adalah Bahasa Indonesia. Karena itu, literasi dapat dipatok sebagai upaya menjunjung tinggi dan mencintai Bahasa Indonesia tersebut.

Kedua, Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, baik ditilik dari aspek suku, agama, ras, adat istiadat, maupun dari segi Bahasa. Literasi adalah ‘jembatan penghubung’ untuk saling mengenal dan berinteraksi dalam lingkungan budaya yang serba plural itu. Dalam dan melalui literasi (Bahasa) kita bisa mengenal dan dikenal oleh sesama saudara yang berasal dari latar belakang daerah yang berbeda. Dengan membaca kita mengenal dunia dan dengan menulis kita dikenal oleh dunia yang heterogen itu.

Literasi dalam Era AI

Pada masa lampau, literasi identik dengan kesunyian. Manusia bergumul dengan kertas dalam situasi yang sunyi. Tetapi, saat ini, orang bisa membaca dan memproduksi tulisan kapan saja dan di mana saja. Teknologi digital dalam bentuk gawai dan terlebih lagi mesin Artificial Intellegence (AI) memungkinkan manusia untuk ‘berliterasi secara instan’.

Dalam hitungan menit, seseorang bisa mengklaim telah membaca ribuan buku dengan bantuan mesin dan menghasilkan puluhan tulisan dengan sokongan mesin AI itu. AI membuat kita bisa menulis lebih cepat, meringkas lebih singkat dan menjawab lebih pintar.

Pertanyaannya adalah apakah manusia tetap menjadi ‘pusat’ dari proses literasi? Bukankan aktivitas baca-tulis itu telah diambil oleh ‘mesin’? Apakah proses berpikir masih berjalan normal ketika literasi telah menjadi urusan ‘kecerdasan buatan’? Siapa yang cerdas, manusia (pengguna mesin) atau mesin itu sendiri?

Tentu saja, kita tidak bisa ‘menolak keberadaan AI’. Tetapi, ketika urusan baca-tulis, diserahkan kepada mesin, maka otak kita menjadi tumpul atau kerdil. Tulisan yang kita hasilkan, meski dari sisi kualitas dan kuantitas, relatif baik, tetapi sadar atau tidak, tulisan itu tidak mencerminkan level pemikiran seseorang. Dengan kata lain, ketika kita ‘bergantung pada AI’, maka otak jadi tumpul dan jari semakin besar. Otak kurang diaktifkan saat literasi menjadi urusan AI.SJ

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Info Terbaru

Karya Tulis

Opini

Statistik Kunjungan

Name
Age
Phone
🟢 Online Users
0
📊 Today's Visitors
0
📊 Today's Visits
0
📊 Yesterday's Visitors
7
📊 Yesterday's Visits
13
📊 Total Visitors
29817
📊 Total Visits
59696