Spirit “Maria Spiritus Santy” dalam Berpidato

Dalam rangka memaknai momen peringatan Sumpah Pemuda, pihak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Manggarai Barat menggelar Lomba Pidato tingkat Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) se-Kab. Manggarai Barat (Mabar). Tema yang dipilih dalam ajang ini, tentu saja berkaitan dengan isu HIV/AIDS. Event yang digelar di gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Labuan Bajo ini, diikuti oleh 20 SMA/SMK/MAN.

SMKS Stella Maris coba berpartisipasi dalam kompetisi ini. Setelah melewati tahap seleksi yang ketat, kami memilih Maria Spiritus Santy, siswi kelas XI jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) sebagai utusan dari SMK Stella Maris. Seperti biasa, saya terlibat penuh dalam membimbing anak ini.

Dalam setiap sesi latihan, Maria terlihat sangat bergairah. Beliau selalu tampil energik dan kreatif. Saya selalu memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang diperlihatkannya dan memberikan catatan perbaikan.

Saya kira, antusiasme dan spirit yang besar itu, selaras dengan namanya. Spiritus Santy sebetulnya, sebuah ungkapan Latin, spiritus sanctus yang berarti Roh Kudus. Setiap kali dirinya tampil di depan publik, pancaran roh atau semangat itu, terlihat dengan jelas.

Dalam Lomba Pidato kali ini, Maria tampil begitu memukau. Hampir semua syarat untuk menjadi public speaker yang inspiratif, relatif terpenuhi. Penampilannya di depan panggung, terlihat elegan dan penuh gaya. Dia menguasai teks dengan baik dan teknik penyampaian pidato, hemat saya sangat istimewa untuk ukuran remaja SLTA.

Performa yang menawan itu, sukses menarik perhatian tim juri. Sayang, Maria harus mengakui ‘pembicara hebat lainnya, yang tidak kalah hebatnya, yaitu perwakilan dari SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo.

Maria, sang spiritus dari Stella Maris harus puas sebagai runner up (juara 2) dalam kegiatan prestisius ini. Dirinya mengaku agak kecewa dengan pencapaian ini. Tetapi, dia juga tidak bisa menyembunyikan ‘rasa bangga’ sebab bisa tampil dan bersaing secara sehat dengan kontestan dari 19 sekolah yang lain.

Judul pidato dari Maria adalah: Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Juga Manusia”. Melalui tema ini, gadis murah senyum ini, secara lantang menyerukan agar kita tidak boleh bertindak diskriminatif dan berpikir stigmatis terhadap ODHA.

Stigma negatif dan diskriminasi, menurut Maria jauh lebih berbahaya dari HIV itu sendiri. Perlakuan yang penuh empati dan sikap solider yang otentik, bisa memperpanjang harapan hidup dari ODHA.

Singkat cerita, ODHA, bagi Maria adalah manusia yang punya martabat yang sama dengan yang lain. Mereka bukan sampah yang mesti dijauhi. Diskriminasi dan stigma, dengan demikian bisa dipandang sebagai ‘aksi penodaan’ terhadap martabat manusia.

Akhirnya, sebagai guru pendamping, saya ucapkan selamat dan profisiat. Pertahankan karaktermu sebagai ‘sang spiritus’ yang dengan penuh semangat dalam mengikuti aneka kegiatan perlombaan baik di tingkat sekolah maupun di level Kabupaten. Semua staf pengajar di lembaga, tempat kamu menimba ilmu, sangat bangga dengan prestasimu ini. *SJ

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Info Terbaru

Karya Tulis

Opini

Statistik Kunjungan

Name
Age
Phone
🟢 Online Users
0
📊 Today's Visitors
12
📊 Today's Visits
18
📊 Yesterday's Visitors
27
📊 Yesterday's Visits
30
📊 Total Visitors
30836
📊 Total Visits
61238