Terapi Senyum

Sesi ‘break time’ untuk pembelajaran ‘sore hari’, (26/2/2025), telah tiba. Lima orang guru, termasuk saya, coba ‘mengisi waktu rehat’ itu dengan bincang-bincang penuh canda di beranda ‘ruang guru’ SMK Stella Maris. Dengan penuh semangat, seorang teman mengabadikan momen itu melalui adegan ‘pengambilan gambar’. “Tolong, hasil bidikannya kirim ke WA saya”.

Tidak pakai lama. Satu fragmen potret ‘masuk ke WA’. Saya sangat ‘terkesan’ dengan hasil kerja kreatifnya itu. Saya juga ‘tidak mau membiarkan’ momen impresif itu berlalalu begitu saja. Tulisan ini sebetulnya hanya ‘cetusan rasa’ yang bersifat spontan ketika ‘menatap potret’ itu dan mengingat kembali ‘suasana’ ketika foto itu dibidik oleh juru kamera amatir itu.

Apa yang terjadi jika dalam sehari kita tidak pernah ‘senyum’? Boleh jadi, kita akan terlihat ‘begitu murung’ dan lebih tua dari usia. Jika itu yang terjadi, maka ‘senyum’ bisa menjadi ‘terapi yang pas’ untuk tetap ‘awet muda’.

Dengan demikan, tersenyum bisa menjaga kesehatan jiwa dan raga kita. Hal positif lainnya adalah ‘menularkan energi hidup’ kepada sesama. Tetapi, tidak semua senyuman, mengalirkan rasa bahagia.

Saya kira, ada juga senyuman yang bersifat palsu. Orang menyebutnya dengan istilah “senyum sinis’. Senyum palsu bertujuan untuk menghina atau merendahkan orang lain. “Senyum sinis” semacam itu, alih-alih datangkan berkat, justru menuai bencana.

Kendati demikian, umumnya senyum itu menunjukkan perasaan senang atau puas, ekspresi kasih sayang dan sebagai bentuk keramahan. Jika beberapa ‘motif’ ini sangat dominan ketika kita tersenyum, maka walau terkesan sederhana, senyum bisa mendatangkan banyak manfaat untuk kesehatan.

Pertama, senyum itu membahagiakan diri sendiri. Mengapa? Keterlaluan jika kita tidak bahagia ketika ‘tersenyum’ pada saat merasakan hal-hal indah dalam hidup. Ketika kita mengingat hal-hal baik yang terjadi pada kita dan bersyukur untuk setiap proses yang ada sembari tersenyum, dengan sendirinya kita diselimuti oleh ‘rasa bahagia’.

Hasil riset membuktikan bahwa senyum yang diiringi dengan rasa syukur akan membantu tubuh melepaskan hormon dopamin dan serotonin di dalam tubuh, sehingga suasana hati bisa menjadi lebih baik dan timbul rasa bahagia.

Kedua, meredakan stres. Saat sedang stres atau hari yang dijalani terasa melelahkan, coba bercermin dulu. Lihat dirimu. Ucapkan afirmasi positif, sekaligus berterima kasihlah kepada dirimu yang sudah kuat. Lalu tersenyum.

Walaupun awalnya terasa kurang nyaman, ekspresi wajah tersenyum ini ternyata dapat โ€œmengelabuiโ€ dan memicu reaksi kimia di otak yang berperan penting dalam membangkitkan perasaan bahagia. Afirmasi positif yang kita ucapkan bisa membangkitkan ketenangan. Stres secara perlahan akan menghilang.

Ketiga, membuat diri terlihat lebih menarik. Diri yang selalu tersenyum dapat memberi kesan kuat akan keramahan, kehangatan, dan beraura positif. Jika kita memberikan senyuman tipis saat sedang berbicara dengan orang lain, auramu akan lebih bersinar dan terlihat menarik.

Keempat, meningkatkan rasa percaya diri. Ketika kita sudah terbiasa untuk tersenyum, kamu akan tampak lebih percaya diri saat berbicara dengan orang lain atau mengerjakan sesuatu. Hal ini bisa memberimu kesempatan lebih besar untuk meraih kesuksesan, baik dalam lingkup sosial maupun pekerjaan. Boleh dibilang, salah satu ‘kunci sukses’ adalah ‘tersenyum’.

Kelima, mempererat hubungan dengan orang lain. Saat momen terasa kaku dan bingung harus mulai percakapan dari mana, cobalah untuk tersenyum lebih dahulu. Secara tidak langsung, senyumanmu akan membuat orang yang menjadi lawan bicaramu lebih nyaman dan kekakuan berangsur mereda.

Senyum juga bisa bisa membuat hubunganmu dengan orang lain lebih langgeng. Saat tersenyum, orang lain mungkin saja bisa merasa lebih nyaman dan diterima, sehingga dapat membantu membangun hubungan dan mempererat ikatan sosial.

Keenam, menularkan kebahagiaan. Senyum itu bisa menula. Luar biasa. Ternyata, seyum itu tidak hanya ‘menata’ suasana hati, tetapi juga bisa memperbaiki mood orang yang melihatnya. Mengapa?Entah sadar atau tidak, otak akan berusaha memahami dan mengikuti emosi lawan bicara.

Ketujuh, meningkatkan sistem imunitas tunuh. Dengan terbiasa senyum, fungsi kekebalan tubuh dapat meningkat karena tubuh lebih relaks dan merasa bahagia. Dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat, kita dapat terhindar dari berbagai penyakit.

Kedelapan, bisa meredakan nyeri. Ketika kita tersenyum dan merasa bahagia, tubuh melepas hormon endorfin sebagai obat pereda nyeri alami. Atas dasar itulah, rasanya tidak berlebihan jika ‘senyum itu sebuah terapi untuk kesehatan’.

Seperti apa wajah peradaban (dunia) jika setiap insan menerapkan ‘terapi senyum’ secara konsisten. Ada ‘daya magis’ dari setiap ‘adegan senyum’ yang menghiasi wajah kita. Mukjizat itu nyata. Salah satunya bersumber dari ‘kesetiaan kita’ untuk menjadi pribadi yang murah senyum.

Meski punya banyak manfaat, bukan berarti kita harus tersenyum sepanjang waktu. Gestur semacam itu justru dilihat sebagai ekspresi gangguan mental. Tersenyum tanpa ada sebab yang masuk akal, dipandang sebagai sebuah keanehan dan bahkan kegilaan.

Senyum merupakan hal sederhana yang bisa mendatangkan manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga. Oleh karena itu, jangan sampai kita melewatkan satu hari ‘tanpa senyum’. Jangan lupa untuk tersenyum, hari ini. Tertnyata, bahagia itu sederhana, yaitu dengan ‘tersenyum’. Tunggu apa lagi.

Wajah Stella Maris makin manis, jika setiap penghuni selalu memancarkan senyuman dalam setiap momen perjumpaan, melaksanakan proses pembelajaran dan dalam menghadapi setiap kemelut hidup. Hadapilah dengan senyum. Perkara selesai jika semua ‘tersenyum’

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Info Terbaru

Karya Tulis

Opini

Statistik Kunjungan

Name
Age
Phone
๐ŸŸข Online Users
0
๐Ÿ“Š Today's Visitors
8
๐Ÿ“Š Today's Visits
12
๐Ÿ“Š Yesterday's Visitors
18
๐Ÿ“Š Yesterday's Visits
40
๐Ÿ“Š Total Visitors
30850
๐Ÿ“Š Total Visits
61272