Dapur Baik, UKK Pun Lancar

Jangan pernah ‘menganggap remeh’ peran mereka yang bergerak di seputar dapur. Semua aktivitas di panggung depan bakal ‘berantakkan’ jika ‘area vital’ itu, tidak dikelola oleh orang yang tepat. Uji Kompetensi Keahlian (UKK) di SMK Stella Maris yang hari ini, Selasa (11/3/2025) memasuki hari kedua, mungkin ‘terbengkelai’, jika juru masak abai menjalankan tugasnya.

Tulisan ini dipersembahkan secara khusus untuk ‘tiga ibu chef master’ lembaga ini, yang sejak kemarin ‘berjibaku’ meracik dan menyiapkan menu yang lezat untuk panitia, para penguji dan sebagian para guru. Dengan asupan nutrisi yang bergizi hasil karya dari trio itu (ibu Nercy, ibu Ledy, dan ibu Atik), para penguji dan panitia UKK bisa bekerja dengan penuh semangat. Energi mereka tetap stabil sebab diganjar dengan ‘santapan’ yang berkualitas itu.

Di mana ada dapur, terutama ketika sedang mengepul, di situ aroma kehidupan begitu terasa. Dapur itu, lebih dari sekadar cooking space. Ia identik dengan ‘living space’. Siapa ingin hidup baik, datanglah ke dapur dan olahlah segala yang ada di sana. Dijamin kebutuhan raga tak menemui kendala.

Dapur adalah ruang khusus untuk menyimpan, meracik, mengolah, dan memasak aneka bahan pangan yang dipadu dengan bumbu penyedap rasa. Ketika semuanya tersedia, maka kita ‘dituntut’ untuk meracik sesuai porsi agar menghasilkan menu santapan yang tidak hanya kaya nutrisi, tetapi enak dan nikmat disantap.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ‘tata kehidupan’ kita berawal dari dapur. Pepatah Latin, “bona culina bona disciplina” yang berarti dapur baik membuahkan disiplin yang baik, sangat tepat membahasakan perihal signifikansi dari keberadaan dapur itu. Dengan agak bebas, peribahasa itu boleh ditafsir sebagai penanda bahwa ‘disiplin berawal dari rumah atau keluarga’.

Itu berarti jika sejak di dalam rumah, seorang anak dibiasakan hidup dalam “dapur yang baik” (berdisiplin), maka dalam hidup bersama selanjutnya, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat, ia tidak akan mengalami banyak kesulitan mewujudkan sikap disiplin. Dapur (keluarga) menjadi tempat pertama “memasak kehidupan anak” agar terlihat enak dan sedap ketika ‘disantap’ oleh masyarakat yang lebih luas.

Dari sisi etimologi, kata disiplin lebih tepat diasosiasikan dengan murid. Kata disiplin berasal dari Bahasa Latin “discipulus” yang berarti murid. Tidak heran jika ‘disiplin’ selalu dihubungkan dengan pola hidup dan kebiasaan para murid di sebuah lembaga pendidikan.

Bahkan, kedisiplinan dipatok sebagai ‘ukuran’ apakah seseorang itu patut disebut murid atau tidak. Jika seorang murid tidak dapat mewujudkan kedisiplinan hidup, ia tidak layak disebut murid. Paling-paling kita hanya dapat mengatakan, “Ia baru dalam proses menjadi murid.” Saya kira, ada banyak, untuk tidak dibilang semua siswa kita, masuk dalam kategori ini.

Karena itu, adagium Latin di atas, tidak hanya tepat diletakkan dalam konteks rumah atau keluarga melainkan juga sekolah. Sekolah dapat diibaratkan sebagai dapur tempat para murid meracik diri dan memasak sehingga ketika keluar dari sekolah itu, mereka dapat menyajikan diri sebagai pribadi-pribadi yang ‘enak’ di mata masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, dapur sudah mengalami ‘transformasi’. Dapur tidak hanya sebagai ‘tempat memasak’, tetapi juga mencuci dan menyimpan pelbagai peralatan masak dan makan-minum. Karena itu, sangat diharapkan agar ‘dapur’ dalam kondisi bersih dan rapi. Kebersihan dan kerapian menjadi ‘kunci’ keberhasilan aktivitas memasak dan menyuguhkan makanan yang sehat dan berkualitas.

Ketika Hari ini saya tiga ibu itu bertindak sebagai ‘chef amatir’ dan ‘pelayan di dapur’, kenangan akan figur ibu, terlintas kembali dalam benak. Ini tugas mulia. Siapa yang setia pada perkara kecil, pasti setia juga dalam menyelesaikan perkara yang besar. Tiga ibu di atas sudah memberikan ‘teladan’ yang baik dalam hal ‘kesetiaan pada perkara kecil’ itu.

Disiplin berawal dari dapur. Ketika para juru masak itu menjalankan tugas tepat waktu dan penuh tanggung jawab, mereka telah menghidupkan filosofi dapur sebagai ‘penggerak spirit berdisiplin’. UKK hari kedua dijamin berjalan tertip. Tetapi, bila ‘urusan dapur terbengkelai’, maka disiplin sulit diterapkan. Kehidupan menjadi khaos, disorder, tidak tertata dengan baik.

Kita berharap sekolah pada umumnya dan SMK Stella Maris tetap menjadi ‘dapur yang baik’ dalam mempersiapkan dan menempa kepribadian siswa agar menghasilkan sajian yang ‘enak’ bagi bangsa dan negara.

Para guru mesti tampil sebagai ‘pelayan dapur pendidikan’ yang profesional untuk menanamkan spirit disiplin bagi siswa. Jika kedisiplinan dari ‘dapur’ menular dalam diri generasi muda, maka tinggal menunggu waktu kita menuai generasi yang bermutu di masa mendatang.

Terima kasih tak berhingga kepada ‘trio chef Stella Maris’, yang telah ‘menginspirasi kami untuk ‘memperhatikan dapur’ dengan baik. Sadar atau tidak, kalian berhasil ‘mendorong’ kami untuk setia pada perkara kecil dan ‘tidak lalai’ dalam mengelola hal baik di dapur. Dapur yang baik, bisa menghasilkan generasi yang subur.

Kedisiplinan tak berjalan mundur jika ‘dapur’ dikendalikan oleh sosok yang tepat. Selamat dan proficiat. Teruslah berkarya di ‘wilayah’ yang paling menentukan keberhasilan itu. Jika bukan karena ‘keuletanmu’, mungkin UKK tahun ini, tak berjalan sesuai rencana. Sil Joni

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email
Print

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Info Terbaru

Karya Tulis

Opini

Statistik Kunjungan

Name
Age
Phone
🟢 Online Users
0
📊 Today's Visitors
0
📊 Today's Visits
0
📊 Yesterday's Visitors
7
📊 Yesterday's Visits
13
📊 Total Visitors
29817
📊 Total Visits
59696