Menu Tutup

“Opus Manuale” dan Profil Pelajar Pancasila SMK Pusat Keunggulan”

“Dan yang ketiga dengan bekerja, manusia mampu secara kreatif menciptakan dan mengembangkan dirinya.”

Franz Magnis-Suseno

SMK PK Stella Maris Labuan Bajo, Sabtu, 04 September 2021

Suatu pertanyaan yang menyentil ranah pedagogis pendidikan Indonesia ialah “Pelajar dengan profil seperti apa yang ingin dimunculkan atau dihasilkan sistem Pendidikan Indonesia?”

Seorang Filsuf, Karl Marx, berpendapat bahwa kerja adalah tanda khas yang melekat pada manusia sebagai makhluk yang bebas dan universal. Keterlekatan itu menarasikan secara simbolik hakekat eksistensi manusia. Dengan bekerja manusia memanifestasikan objektivitas dirinya di tengah dunia. Secara sederhana Magnis-Suseno memberikan tiga fungsi kerja yaitu, pertama dengan bekerja manusia bisa memenuhi kebutuhannya secara material. Kedua, dengan bekerja manusia dipandang sebagai person yang bermanfaat. Ketiga, dengan bekerja manusia mampu secara kreatif mengembangkan dirinya. Terminologi tentang kerja selalu dan tidak pernah terlepas dari diskursus manusia.

Dalam konteks dunia pendidikan, kerja bisa menjadi tujuan sekaligus motivasi yang ingin dicapai. Kompetensi yang diniscayakan merupakan kontekstualitas dari locus di mana suatu sistem pendidikan diciptakan. Sistem pendidikan Indonesia mengafirmasi hal itu lewat gagasan Profil Pelajar Pancasila yang diluncurkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Profil Pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan besar, yaitu “Pelajar dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia?” Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Pernyataan ini berkaitan dengan dua hal, yaitu kompetensi untuk menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan untuk menjadi manusia unggul dan produktif di abad ke-21. Dalam hal ini, peserta didik Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai
tantangan. Peserta didik diharapkan mampu untuk bekerja dalam persaingan lokal, nasional, maupun internasional.

Program Sekolah Pusat Keunggulan yang telah diluncurkan oleh Kemendikbud, menekankan satuan pendidikan yang menghasilkan lulusan yang siap diterima di dunia kerja. Hal penting berkaitan dengan itu ialah link and match antara satuan pendidikan (SMK) dengan DUDI. Kesesuaian antara kebutuhan kompetensi yang dituntut dunia kerja harus dipenuhi oleh satuan pendidikan agar lulusan yang dihasilkan siap untuk bekerja. Lalu pertanyaan yang muncul ialah bagaimana link and match itu bisa diwujudkan?

Siswa-siswi XI SMK Stella Maris sedang bekerja membersihkan taman.

SMK PK Stella Maris Labuan Bajo mencoba menjawab pertanyaan itu, bukan saja melalui esensi kurikulum tetapi melalui proses integrasi pedagogis peserta didik. Dengan amat sederhana, terminologi opus manuale (kerja tangan) menjadi aktus penting yang diajarkan kepada peserta didik. Aktus kerja tangan yang diajarkan kepada peserta didik merupakan suatu yang amat sering dilaksanakan. Tidak ada tendensi negatif dalam melatih peserta didik untuk bekerja “kotor” melainkan suatu preseden empiris yang memang harus dilaksanakan. Kerja bukan saja menjadi perwujudan diri melainkan juga sebagai aktus yan kreatif diajarkan dan dilatih untuk pengembangan diri.

Hal sederhana seperti kerja tangan merupakan “alas kaki” dari keseluruhan budaya kerja dan profil pelajar pancasila yang digagas Kemendikbud. Gagasan besar tidak akan bermakna tanpa praksis yang faktual dan kontekstual. Malahan nilai real dari suatu gagasan adalah aktus sederhana yang kadang dianggap sepele tetapi secara holistik berfungsi untuk mewujudkan gagasan tersebut. Holistik bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah- pisah. Dalam konteks perancangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja, kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk menelaah sebuah fenomena secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sesuatu secara mendalam.

Pak Albert bersama murid-murid kelas XI sedang membersihkan lingkungan sekolah.

Prinsip kontekstual berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang
dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong guru dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Oleh karenanya, sekolah sebagai penyelenggara kegiatan projek harus membuka ruang dan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat mengeksplorasi
berbagai hal di luar lingkup sekolah. Tema-tema projek yang disajikan sebisa mungkin dapat menyentuh persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing. Dengan demikian, kerja tangan seperti, mencabut rumput, menyapu, membersihkan taman merupakan hal-hal sederhana yang kadang dianggap sepele tetapi amat holistik dalam membangun kompetensi peserta didik. Begitulah dasar-dasar penting niscaya perlu dilatih dan diajarkan kepada peserta didik agar satuan pendidikan dapat merealisasikan link and match.

Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *